Narasi Cinta Sebagai Diplomasi Budaya: Kesadaran Antarbudaya Dalam “ Namaku Hiroshi “

Dinda Alawiyah Hasrin

Abstract


v>AbstrakPenelitian ini mengkaji peran narasi cinta dalam novel Namaku Hiroshi karya Agnes Davonarsebagai bentuk diplomasi budaya yang menumbuhkan kesadaran antarbudaya antara dua bangsa,yaitu Indonesia dan Jepang. Kisah cinta yang diangkat dalam novel ini bukan sekadar romansapribadi, melainkan menjadi ruang naratif yang sarat makna kultural, tempat pertemuan duaidentitas nasional yang berbeda. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis naratif danteori komunikasi antarbudaya, penelitian ini memetakan dinamika pertemuan budaya, perbedaannilai, serta proses negosiasi identitas yang terjadi dalam interaksi antartokoh.Tokoh Hiroshisebagai representasi warga Jepang dan lingkungan masyarakat Indonesia dalam ceritamenciptakan dialektika budaya yang mencerminkan toleransi, empati, dan keterbukaan. Narasicinta dalam novel ini membentuk sebuah diplomasi kultural yang bersifat personal namunmemiliki efek kolektif dalam menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan dan saling pengertian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya sastra, khususnya yang mengangkat kisah cinta lintasbudaya, mampu menjadi jembatan emosional dan simbolik dalam membangun relasi antarbangsadi luar jalur diplomasi formal.Dengan menjadikan emosi dan kemanusiaan sebagai dasarpenyampaian pesan, Namaku Hiroshi memperlihatkan bagaimana fiksi dapat menjadi mediumefektif dalam merawat dan memperkuat hubungan antarbudaya. Penelitian ini menyimpulkanbahwa narasi cinta dalam karya sastra memiliki potensi besar sebagai alat diplomasi budaya yanghalus namun kuat dalam membentuk kesadaran dan penghargaan lintas budaya.

Keywords


: Narasi Cinta, Diplomasi Budaya, Kesadaran Antar Budaya, Namaku Hiroshi

Full Text:

PDF

References


Anderson, B. (1991). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of

Nationalism. London: Verso.

Byram, M. (1997). Teaching and Assessing Intercultural Communicative Competence. Clevedon:

Multilingual Matters.

Davonar, A. (2013). Namaku Hiroshi. Yogyakarta: LeutikaPrio.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Hall, E. T. (1976). Beyond Culture. New York: Anchor Books.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage

Publications in association with The Open University.

Hannerz, U. (1992). Cultural Complexity: Studies in the Social Organization of Meaning. New

York: Columbia University Press.

Hofstede, G. (2001). Culture’s Consequences: Comparing Values, Behaviors, Institutions and

Organizations across Nations. Thousand Oaks: Sage Publications.

Huntington, S. P. (1996). The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New

York: Simon & Schuster.

Kraidy, M. M. (2005). Hybridity, or the Cultural Logic of Globalization. Philadelphia: Temple

University Press.

Kramsch, C. (1998). Language and Culture. Oxford: Oxford University Press.

Nye, J. S. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics. New York: PublicAffairs.

Said, E. W. (1978). Orientalism. New York: Pantheon Books.

Storey, J. (2009). Cultural Theory and Popular Culture: An Introduction (5th ed.). Harlow:

Pearson Education.

Ting-Toomey, S. (1999). Communicating Across Cultures. New York: Guilford Press


Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Lembaga BIPA UMSU

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Kampus Utama
Jl. Kapten Muchtar Basri No.3, Glugur Darat II,Medan
Sumatera Utara-20238
E-mail: sebipa@umsu.ac.id

Creative Commons License

This work is licensed under aCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats